Bertahan Sebagai Single Parent

Jumat, 15 Januari 2016

Administrator

Artikel

Dibaca: 1486 kali

BARANI-NEWS

Siapa pun pasti tak pernah berharap menjadi orang tua tunggal (single parent). Keluarga yang lengkap dan utuh merupakan idaman setiap orang. Namun, adakalanya nasib berkata lain.

Menjadi single parent dalam sebuah rumah tangga tentu saja tidak mudah Terlebih, bagi seorang isteri yang ditinggalkan suaminya, karena meninggal atau bercerai.

Paling tidak, dibutuhkan perjuangan berat untuk membesarkan si buah hati, termasuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Pakar ahli jiwa AS, Dr Stephen Duncan, dalam tulisannya berjudul The Unique Strengths of Single-Parent Families mengungkapkan, pangkal masalah yang sering dihadapi keluarga yang hanya dipimpin orangtua tunggal adalah masalah anak. Anak, paparnya, akan merasa dirugikan dengan hilangnya salah satu orang yang berarti dalam hidupnya.

Hasil riset menunjukkan bahwa anak di keluarga yang hanya memiliki orang tua tunggal, rata-rata cenderung kurang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik dibandingkan anak yang berasal dari keluarga yang orangtuanya utuh,`` terangnya.

Menurut Duncan, keluarga dengan orang tua tunggal selalu terfokus pada kelemahan dan masalah yang dihadapi. Ia berpendapat, sebuah keluarga dengan orang tua tunggal sebenarnya bisa menjadi sebuah keluarga yang efektif, lainnya keluarga dengan orangtua utuh. Asalkan, mereka tak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya.

``Melainkan, harus secara sadar membangun kembali kekuatan yang dimilikinya,`` katanya.

Sedangkan, Stephen Atlas, pengarang buku Single Parenting, menuliskan, jika keluarga dengan orang tua tunggal memiliki kemauan untuk bekerja membangun kekuatan yang dimilikinya, itu bisa membantu mereka untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dengan begitu, Duncan menyambung, ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari upaya itu bagi si orang tua maupun anak-anaknya. ``Dengan begitu, sebenarnya bukan sebuah halangan bagi wanita yang menjadi single parent untuk mendidik dan memelihara keluarganya,`` katanya.

Apalagi ada sebuah kajian psikologi yang menyatakan bahwa wanita bisa lebih kuat menghadapi perpisahan, baik itu kematian maupun perceraian dengan pasangan, ketimbang laki-laki.

Wanita semestinya lebih tahan menderita karena secara sunnahtullah ia terlatih untuk `kuat` menghadapi darah menstruasi di awal balighnya, hamil, dan melahirkan.

Sementara, di usia baligh yang sama, anak laki-laki mungkin masih bermain-main. Namun, paparan ini bukan menjadi alasan untuk mudah memutuskan menjadi orang tua tunggal, apalagi karena perceraian.

Fenomena "single parent" mulai lazim belakangan ini. Para orangtua tunggal adalah individu yang melakukan tugas ganda, baik sebagai ayah dan ibu. Namun hidup tanpa pasangan tidak harus membuat hidup menjadi kelam. Anda pun bisa menjadi orangtua tunggal yang mandiri.

Ambil Tugas Ayah. Peran ganda, sebagai ibu sekaligus ayah, atau sebagai ayah sekaligus ibu pada single dad, memaksa seseorang untuk sendirian memikul tugas dua orang di pundaknya.

Tetap meluangkan waktu bermain dengan anak sepulang kerja. Mencarikan teman bermain untuk anak saat merasa tidak sanggup atau bermain ala lelaki.

Memilihkan permainan yang cocok dilakukan anak laki-laki dengan ibu, sehingga tetap ada waktu bermain bersama. Tetap bekerja sama dengan mantan suami untuk mendidik anak.

Berusaha menjelaskan kondisi orangtua yang tidak lagi bersama, agar anak tidak bingung kenapa orangtuanya tidak tinggal bersama.

Masalah keuangan. Sekarang, segala keputusan yang menyangkut masalah keuangan, misalnya asuransi, tabungan, dan sebagainya, tidak lagi dapat berbagi dengan pasangan. Maka melakukan penghematan dan menurunkan standar hidup, mau tak mau harus dilakukan.

Membeli mainan tak harus mahal, adalah sikap tepat karena mainan bukan kebutuhan primer. Dalam kondisi seperti ini, yang dibutuhkan selain psikolog adalah konsultan keuangan karena ia tetap harus memikirkan:

Tabungan pendidikan. Asuransi kesehatan untuk mengcover pengeluaran biaya rumah sakit untuk diri sendiri dan anak. Kemungkinan investasi melalui reksa dana.

Penerimaan Lingkungan. Tak bisa dipungkiri, masih ada sebagian orang menganggap hidup sendiri ini sebagai ancaman bagi keharmonisan rumah tangga orang lain. Yang dibutuhkan adalah:

Teman untuk berbagi, seperti keluarga atau sahabat perempuan. Selain untuk berbagi, teman ini bisa membantu Ika menentukan sikap menghadapi pelecehan.

Tidak menutup diri, hanya tinggal di rumah dan tidak mau bertatap muka dengan para tetangga. Hadapi mereka dan ikuti kegiatan-kegiatan di sekitar rumah. Dengan demikian para tetangga lebih bisa memahami sebagai single mom.

Kebutuhan Seksual. Imej masyarakat yang menganggap para duda tidak bisa menahan hasrat seksualnya, membuat para duda cepat memutuskan untuk menikah.

Padahal dorongan seksual bukan milik laki-laki semata. Sebetulnya tidaklah benar bila dikatakan hanya laki-laki saja yang tidak mampu menahan. Dorongan seksual yang ditahan bisa mengakibatkan:

Tubuh merasa tidak nyaman. Bahkan bagi pria, sperma harus setiap hari dibuang agar bisa kembali memroduksi sperma baru. Kondisi emosi jadi tidak stabil, kemarahan bisa muncul dan peluang cukup besar untuk dilampiaskan kepada anak.

Untuk mengantisipasi: Menyalurkan hasrat seksual tidak harus dengan kontak seksual. Lakukan dengan cara lain seperti masturbasi. Menonton film atau membaca majalah (triple X) bisa dijadikan sarana untuk melampiaskan dorongan seksual. Penuhi hari-hari Anda dengan aktivitas sehingga pikiran Anda tidak terobsesi memenuhi dorongan seksual.

Menjadi yang Terbaik. Kesibukan mendera orangtua tunggal sehingga melupakan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Bahagiakan diri Anda, coba cara berikut:

Fokus pada apa yang dimiliki saat ini. Anak kini jadi pusat kehidupan Anda, karena hidup Anda sekarang hanya bersamanya. Jika anak melihat Anda murung, tidak nyaman atau tidak aman sendirian, ia akan merasakan hal yang sama. Nikmati hidup bersama anak, agar bisa merasakan kebahagiaan bersama.

Mengenal diri. Hanya Anda yang tahu siapa diri Anda, seberapa kemampuan Anda, apa yang Anda inginkan saat ini. Tinggalkan segala pikiran negatif tentang kesendirian dan berlatihlah untuk merasa nyaman dengan diri sendiri. Lakukan apa yang bisa membuat Anda bahagia. Anda butuh me time!

Libatkan anak-anak. Anak perlu dilibatkan ketika peran orangtua hilang satu. Bukan untuk menggantikan ibu atau ayah yang baru. Misalnya dekat dengan paman, bibi atau kakek dan nenek untuk mengisi kekosongan salah satu peran orangtua.

Sadar bahwa Anda tidak bisa menjadi segalanya bagi anak. Anda tidak perlu merasa tertekan, sebab bukan berarti anak-anak tidak bisa mendapat kasih sayang yang utuh. Kasih sayang dapat diperoleh anak dari saudara atau orang-orang terdekat, bahkan ayahnya yang masih kerap mengunjunginya. (Asmita)

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas